Epilog.
Untukmu, Bintang terang di ufuk langit malam. Izinkanlah aku menulis untuk yang terakhir kalinya tentangmu. Ya, tentangmu yang selalu kudamba, tapi tak pernah menyapa. tentang senyumanmu, yang tak pernah habis cahayanya berbinar, tapi tak pernah tersandar Juga tentang matamu, sebuah keindahan yang nyata, tapi tak pernah sedikitpun aku bisa menatapnya. Aku penasaran, bagaimana caramu menyihirku? Bagaimana caramu melihat sisi lain dunia dengan tatapanmu? Lalu seandainya diizinkan, bedosakah aku hidup dalam hatimu? Berjuta pertanyaan selalu muncul dalam benakku tentangmu. Kurasa, kau berhutang maaf padaku. Perihal kau yang masuk dan keluar semaumu ke dalam duniaku yang kacau. Kau ini, ceroboh, sangat sulit untuk bersabar, bodoh, konyol, aneh, dan juga monolog. Namun, aku menyukainya. Ingatkah saat aku mengantarmu kembali? Langit jingga saat itu, tanpa sadar mengikuti alur perbincangan kita tentang kehidupan. Hingga saat kau menunjukan keahlian monolog y...