Epilog.



Untukmu, Bintang terang di ufuk langit malam.
Izinkanlah aku menulis untuk yang terakhir kalinya tentangmu.
Ya, tentangmu yang selalu kudamba, tapi tak pernah menyapa.
tentang senyumanmu, yang tak pernah habis cahayanya berbinar, tapi tak pernah tersandar
Juga tentang matamu, sebuah keindahan yang nyata, tapi tak pernah sedikitpun aku bisa menatapnya. Aku penasaran, bagaimana caramu menyihirku?
Bagaimana caramu melihat sisi lain dunia dengan tatapanmu?
Lalu seandainya diizinkan, bedosakah aku hidup dalam hatimu?

Berjuta pertanyaan selalu muncul dalam benakku tentangmu.
Kurasa, kau berhutang maaf padaku.
Perihal kau yang masuk dan keluar semaumu ke dalam duniaku yang kacau.
Kau ini, ceroboh, sangat sulit untuk bersabar, bodoh, konyol, aneh, dan juga monolog.
Namun, aku menyukainya.

Ingatkah saat aku mengantarmu kembali?
Langit jingga saat itu, tanpa sadar mengikuti alur perbincangan kita tentang kehidupan.
Hingga saat kau menunjukan keahlian monolog yang kau miliki,
Saat itu Aku berpikir mungkin saja rasa kantukmu datang, atau perasaan bosan yang menyerangmu.
Namun aku baru tersadar, hari itu kau berbincang dengan langit.
Aku bersyukur, Raut wajahmu sangat bahagia saat itu.

Aku berterima kasih padamu.
Sebab, diam-diam kau mulai membenahi duniaku.
Tapi maaf, aku masih sangat bodoh dalam hal melupakanmu.
Kupikir, kau terlalu berharga untuk aku lupakan.
Biarlah apa yang kurasakan ini tanpa batas, dan tanpa balas.
Maaf, aku selalu mengganggu waktumu,
Maaf, aku terlalu memaksa,
Maaf atas kesunyianku,
Maaf atas perubahanku,
Maaf atas hatiku yang keras kepala.

Terima kasih, sudah tinggal dalam nalar dan relungku.
Terima kasih, kau berhasil mengubah si bodoh ini.
Berkatmu, si bodoh ini menemukan siapa ia sebenarnya.
Sungguh, aku tak bisa terus berbohong, sampai saat ini, perasaanku masih utuh untukmu.
Tapi dengan berat hati, aku ingin kau kembali ke ufuk langit malam, tempatmu seharusnya berada.
Tempat dimana cahayamu kembali terang.

Aku, melepasmu.





-ButterflyWaltz, 2019

Comments

Popular posts from this blog

Aku Dimana?

Terpatri