Terpatri
Dunia ini sepertinya masih saja ingin menjinakkanku.
"Hiduplah dengan bebas" masih ingin kurasakan.
Aku ingin hidup di tempat yang tak terjangkau dari kata "Selamat tinggal"
-
Akhirnya, waktunya tiba.
Hingga kemarin, semuanya adalah Permulaan dari sebuah prolog.
Tak perlu dibaca, Sekarang adalah giliranku Membawa serta semua pengalaman, pengetahuan dan juga keberanian yang telah berjamur.
-
Teringat dengan janji untuk pergi menyelami dirimu dengan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Di tengah lelapnya tidurku, Aku bermimpi melawan arus yang tak semestinya ditantang.
Sampai aku terbangun, aku menatap langit-langit rumah yang seakan berbicara.
bahwa, Tak peduli seberapa keras kata takdir maupun masa depan berusaha untuk mengulurkan tangan mereka,
Kita berdua telah jatuh cinta di tempat yang tak akan bisa dicapai oleh mereka.
-
Jarum jam pun terus berdetak maju, sambil melirik kita dengan bola matanya.
Mari kita buktikan bahwa kita berdua akan terus bertahan seumur hidup.
Sebab, ada banyak bab dan sub-bab yang tidak kita inginkan di dunia yang seperti ini.
Mari kita menarik napas panjang untuk seribu tahun dalam satu hari.
-
Bahkan dari caramu mencintapun, kini beraroma dirimu.
Caramu berjalan pun, selalu ada gelak tawamu.
Caramu memandang dunia ini pun, selalu memukau takdir.
Menorehkan seutuhnya dirimu yang suatu hari akan menghilang itu kedalam memoriku bukanlah lagi "hak", namun suatu "kewajiban" di mataku.
4 September 2019.
-ButterflyWaltz.
Comments
Post a Comment