Posts

Terpatri

Dunia ini sepertinya masih saja ingin menjinakkanku. "Hiduplah dengan bebas" masih ingin kurasakan. Aku ingin hidup di tempat yang tak terjangkau dari kata "Selamat tinggal" - Akhirnya, waktunya tiba.  Hingga kemarin, semuanya adalah Permulaan dari sebuah prolog. Tak perlu dibaca, Sekarang adalah giliranku Membawa serta semua pengalaman, pengetahuan dan juga keberanian yang telah berjamur. -  Teringat dengan janji untuk pergi menyelami dirimu dengan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Di tengah lelapnya tidurku, Aku bermimpi melawan arus yang tak semestinya ditantang.  Sampai aku terbangun, aku menatap langit-langit rumah yang seakan berbicara. bahwa,  Tak peduli seberapa keras kata takdir maupun masa depan berusaha untuk mengulurkan tangan mereka,  Kita berdua telah jatuh cinta di tempat yang tak akan bisa dicapai oleh mereka. - Jarum jam pun terus berdetak maju,  sambil melirik kita dengan bola matanya.  ...

Ibu

Seperti pagi hari dibulan April. tiap tetes peluhnya, jatuh pada bunga Bugenvil. Membalas perbuatannya terasa begitu mustahil. Lantas, apa yang harus dilakukan agar semua terasa adil? Ataukah harus aku akui bahwa keberanianku ini kecil? - Seperti malam hari dibulan September. Kala itu, sinar bulan tercecer. Bintang menjauh berjuta kilometer. Nyanyian lembut ibu, berirama dengan hembusan angin. Pantaskah aku bersandar pada ibu? - Seperti sore hari dibulan Februari. Suara lembut itu, sering kubalas dengan emosi. Hati suci itu, sering kubalas dusta beribu narasi. Senyum indah itu, sering kurusak dengan salah tak terhitung jemari. Maaf bu, aku kurang berbudi. Aku kurang berani, Untuk mengakui kesalahan yang telah aku jajaki. Bahkan bibir ini terasa berat berucap terima kasih. - Terima kasih, Ibu. 12 Juni 2019, ButterflyWaltz.

Sparkles

Sparkles. The wind that breezed through the two of us, Where did it carry the sadness from? And the dreams that always shines through my eyes, Where did it go now? The sky after I cried, seemed to be more transparent. - Their words that always seemed to be sharp, felt a bit warm today. I didn’t ever know what is kindness, Sadness, Smiles, and how to talk of my dreams. So, I mimicked them on everything. Cause all I knew was pain. - We are time-flyers, climbers that runs up the time, Always wishing to be back at the time we were okay. Hiding, and getting lost in the times itself. And never knowing what to do or what to say. We become something we are not. - Cause you’re a flashy crier, I to try wipe those tears but, You refused. I understood as I saw the tears keep flowing. “ Crying because I’m happy, laughing because I’m sad. It’s just because my heart, can finally surpassed myself.”

Pengaruh Musik dan Musisi Indie Kepada Musisi Berlabel Major Dan Kaitannya Dengan Selera Musik Para Millenial.

Pengaruh Musik dan Musisi Indie Kepada Musisi Berlabel Major Dan Kaitannya Dengan Selera Musik Para Millenial.           Pernah dengar musisi bernama Silampukau yang terkenal dengan lagu “ Doa 1” atau Danilla dengan lagu ‘Ada Disana” yang baru-baru ini mencuri perhatian musik Indonesia? Jika belum, mereka adalah salah satu contoh musisi yang terkenal akan lagu-lagunya yang terdengar seperti genre Folks atau Ballad . Sebelum itu Indie sendiri bukanlah sebuah label atau genre untuk para pemusik di jagat Indonesia, namun nama Indie sendiri merupakan singkatan dari Independent. Artinya bahwa para musisi Indie berkarya tanpa ada bantuan dari label major yang berarti mereka sangat bebas, mandiri dan merdeka dalam berkarya tanpa ada campur tangan atau peraturan dari label major yang mengikat mereka. Musisi indie dalam berkarya cenderung bebas karena mereka menuangkan pemikiran dan karya mereka dalam musik sesuai dengan apa yang mereka sukai...

Epilog.

Untukmu, Bintang terang di ufuk langit malam. Izinkanlah aku menulis untuk yang terakhir kalinya tentangmu. Ya, tentangmu yang selalu kudamba, tapi tak pernah menyapa. tentang senyumanmu, yang tak pernah habis cahayanya berbinar, tapi tak pernah tersandar Juga tentang matamu, sebuah keindahan yang nyata, tapi tak pernah sedikitpun aku bisa menatapnya. Aku penasaran, bagaimana caramu menyihirku? Bagaimana caramu melihat sisi lain dunia dengan tatapanmu? Lalu seandainya diizinkan, bedosakah aku hidup dalam hatimu? Berjuta pertanyaan selalu muncul dalam benakku tentangmu. Kurasa, kau berhutang maaf padaku. Perihal kau yang masuk dan keluar semaumu ke dalam duniaku yang kacau. Kau ini, ceroboh, sangat sulit untuk bersabar, bodoh, konyol, aneh, dan juga monolog. Namun, aku menyukainya. Ingatkah saat aku mengantarmu kembali? Langit jingga saat itu, tanpa sadar mengikuti alur perbincangan kita tentang kehidupan. Hingga saat kau menunjukan keahlian monolog y...

Cerita dibalik Album 21st Century Breakdown (Green Day)

Image
21st CENTURY BREAKDOWN Nah, sebelumnya gue sudah menjelaskan tentang sejarah seluk beluknya Greenday, sebuah band yang sudah menjadi legenda hidup bagi para fansnya. dan pada kesempatan kali ini, gue mau kasih tau ke lo semua kalo album dia yang berjudul 21st Century Breakdown ini gokil, dan bener bener gak terduga. kenapa gue bilang gak terduga? Karena gue baru banget sadar dari lagu pertama, lagu pembuka lagu ini sampai lagu terkahir kalo lo resapi liriknya ternyata menjadi sebuah cerita yang menurut gue bagus untuk lo semua tau. sebelum gue jelasin ceritanya berikut gue cantumin daftar dari lagu lagu album ini, Jadi di dalam album ini ada 18 lagu totalnya, dan kemudian dari setiap lagu tersendiri mempunyai sebuah jalan cerita yang nyambung ke lagu yang satu dan lagu selanjutnya sehingga membentuk sebuah cerita. dan selanjutnya gue bakalan jelasin apa cerita dari album ini. Song Of The Century (0:58) Lagu Pembukaan dari album ini nuansanya seperti orang yang se...

Aku Dimana?

Belakangan Ini, aku benar-benar sangat sesak. Mereka Teriak "Kau bukan salah satu dari kami" Ada pula yang berteriak "Kami lebih baik daripada kalian" Hingga sampai aku muak, aku melontarkan pertanyaan kepada diriku. Siapa kita? Dimana aku? Mengapa mereka sangat jahat? Jahat karena mengklaim tanah ini tanah moyang mereka. Apakah aku yang bodoh? Apakah aku salah? Apakah aku terlalu menuruti intuisi? Sebab disuatu malam aku berpikir. Mengapa kita tidak bisa hidup bersama? Mengapa hidup disini sangat tidak mudah? Mengapa mereka menekan nalarku? Apakah karena aku hanya sebagian kecil? Apakah karena bilurku terbuka lebar lantas mereka bisa seenaknya menginjaku? Kurasa kalian tau apa yang ingin kujelaskan disini. Para tetua berspekulasi bahwa tanah ini bukan milik siapa-siapa. Tanah ini milik kita yang hidup mendiaminya. Bukan milik mereka yang mengaum bersama golongannya. Bukan pula milik mereka yang duduk di atas cakrawala. Apakah tidak bisa kita hidup ...