Ibu

Seperti pagi hari dibulan April.
tiap tetes peluhnya, jatuh pada bunga Bugenvil.
Membalas perbuatannya terasa begitu mustahil.
Lantas, apa yang harus dilakukan agar semua terasa adil?
Ataukah harus aku akui bahwa keberanianku ini kecil?
-
Seperti malam hari dibulan September.
Kala itu, sinar bulan tercecer.
Bintang menjauh berjuta kilometer.
Nyanyian lembut ibu, berirama dengan hembusan angin.
Pantaskah aku bersandar pada ibu?
-
Seperti sore hari dibulan Februari.
Suara lembut itu, sering kubalas dengan emosi.
Hati suci itu, sering kubalas dusta beribu narasi.
Senyum indah itu, sering kurusak dengan salah tak terhitung jemari.
Maaf bu, aku kurang berbudi.
Aku kurang berani,
Untuk mengakui kesalahan yang telah aku jajaki.
Bahkan bibir ini terasa berat berucap terima kasih.
-
Terima kasih,
Ibu.

12 Juni 2019,
ButterflyWaltz.


Comments

Popular posts from this blog

Epilog.

Aku Dimana?

Terpatri