Pengaruh Musik dan Musisi Indie Kepada Musisi Berlabel Major Dan Kaitannya Dengan Selera Musik Para Millenial.


Pengaruh Musik dan Musisi Indie Kepada Musisi Berlabel Major Dan Kaitannya Dengan Selera Musik Para Millenial.

          Pernah dengar musisi bernama Silampukau yang terkenal dengan lagu “Doa 1” atau Danilla dengan lagu ‘Ada Disana” yang baru-baru ini mencuri perhatian musik Indonesia? Jika belum, mereka adalah salah satu contoh musisi yang terkenal akan lagu-lagunya yang terdengar seperti genre Folks atau Ballad. Sebelum itu Indie sendiri bukanlah sebuah label atau genre untuk para pemusik di jagat Indonesia, namun nama Indie sendiri merupakan singkatan dari Independent. Artinya bahwa para musisi Indie berkarya tanpa ada bantuan dari label major yang berarti mereka sangat bebas, mandiri dan merdeka dalam berkarya tanpa ada campur tangan atau peraturan dari label major yang mengikat mereka. Musisi indie dalam berkarya cenderung bebas karena mereka menuangkan pemikiran dan karya mereka dalam musik sesuai dengan apa yang mereka sukai dan mereka rasakan. Kemudian mereka cenderung sangat mandiri, artinya mereka memproduksi karya-karyanya baik itu rekaman, pemasaran sampai produksi secara mandiri.
            Dahulu, musik indie dinilai cukup sulit untuk berkembang. Pasalnya media yang dipakai oleh mereka pada saat itu amatlah terbatas. Kemudian juga mereka harus bersaing dengan musisi-musisi berlabel major yang berkuasa pada saat itu seperti Dewa 19, Wali Band, Peterpan, dll. Berbeda dengan era yang serba digital ini, penyebaran musik indie sangat menjamur. Karena media yang mereka gunakan untuk pemasaran dan promosi sangatlah luas. Media sosial menjadi salah satu alat utama yang digunakan para musisi indie untuk mendobrak pasar. Seperti yang dikatakan oleh penabuh drum Sheila On 7, Brian Kesno Putro, “kalau menurutku, sekarang sudah di era digital. Pasti semuanya mudah untuk berkarya. Beberapa tahun lalu, label-label itu berkuasa. Dahulu kalau mau berkarya tidak bisa bebas, sekarang kalau mau berkarya bisa dengan ibu jari kamu. Karena semua memiliki kesempatan yang sama, dengan itu kamu bisa menarik perhatian orang lain.” (Ujar Brian dalam laman student.cnnIndonesia.com, “Prospek Musik Indie di Era Digital” yang ditulis oleh Hana Nushratu, pada tanggal 22 Juni 2017) Hal ini tentunya berdampak dengan terpengaruhnya selera musik millenial dan musisi yang berlabel major.
            Selera musik millennial berubah drastis semenjak musik Indie menguasai jagat permusikan di Indonesia. Para millennial bisa menikmati musik-musik mereka dari aplikasi musik dan video yang bisa dikases dengan mudah dalam ponsel pintar mereka seperti spotify, joox, dan iTunes. Hal tersebut bukanlah satu satunya faktor meledaknya musik indie. Liriknya yang dinilai begitu puitis dan terkesan romantis, yang kadang sedikit menyentil masalah politis dinilai sangat cocok dan disukai millennial pada saat ini. Hal ini tentunya membuat tingkat perkembangan musisi label dengan musisi indie sangatlah jauh berbeda. Musik indie disukai millennial karena dinilai menceritakan kehidupan bedasarkan realita yang sebenarnya, dan karena musik indie itu multitafsir, munculah cocoklogi yang timbul dari dalam diri seseorang yang mendengarnya. Berbeda dengan musik label yang terkenal sangat erat kaitannya dengan lagu-lagu yang bersifat romansa atau cinta.
           

Comments

Popular posts from this blog

Epilog.

Aku Dimana?

Terpatri