Aku Dimana?

Belakangan Ini, aku benar-benar sangat sesak.
Mereka Teriak "Kau bukan salah satu dari kami"
Ada pula yang berteriak "Kami lebih baik daripada kalian"
Hingga sampai aku muak, aku melontarkan pertanyaan kepada diriku.
Siapa kita? Dimana aku? Mengapa mereka sangat jahat?
Jahat karena mengklaim tanah ini tanah moyang mereka.
Apakah aku yang bodoh? Apakah aku salah? Apakah aku terlalu menuruti intuisi?
Sebab disuatu malam aku berpikir.
Mengapa kita tidak bisa hidup bersama?
Mengapa hidup disini sangat tidak mudah?
Mengapa mereka menekan nalarku?
Apakah karena aku hanya sebagian kecil?
Apakah karena bilurku terbuka lebar lantas mereka bisa seenaknya menginjaku?
Kurasa kalian tau apa yang ingin kujelaskan disini.
Para tetua berspekulasi bahwa tanah ini bukan milik siapa-siapa.
Tanah ini milik kita yang hidup mendiaminya.
Bukan milik mereka yang mengaum bersama golongannya.
Bukan pula milik mereka yang duduk di atas cakrawala.
Apakah tidak bisa kita hidup secara berdampingan?
Apakah menurutmu orang lain itu hina karena tidak sama denganmu?
Sadarlah, Mereka saudara kita!
Tak ingatkah dirimu? Dahulu kita pernah berjuang bersama mempertahankan tanah ini?
Apakah memang kalian dibutakan oleh golongan itu?
Yang kutahu, Manusia diciptakan berbeda.
Kaupun tidak bisa menanamkan apa yang kau percaya pada orang lain.
Maka kumohon hentikan.
Aku merasa asing di tanahku sendiri.
kumohon jujur, sebenarnya dimana aku?

Comments

  1. Bagus sekali Abi tulisan ini. Keep up the good work ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ibu Ita! Tentu saya akan lanjutkan. Hehe

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Epilog.

Terpatri